Kebiasaan Doomscrolling dan Pengaruhnya pada Kesehatan – Di era digital seperti sekarang, hampir semua orang menghabiskan waktu dengan melihat media sosial atau membaca berita melalui smartphone. Namun, tanpa disadari, kebiasaan terus-menerus membaca berita negatif dapat memicu perilaku yang dikenal sebagai doomscrolling. Istilah ini merujuk pada kebiasaan menggulir layar tanpa henti untuk mencari spaceman atau membaca informasi buruk, menakutkan, maupun berita yang memicu kecemasan.
Fenomena doomscrolling semakin meningkat sejak maraknya berita tentang krisis global, bencana alam, konflik, hingga masalah ekonomi. Banyak orang merasa perlu terus mengikuti perkembangan informasi, padahal kebiasaan tersebut justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik.
Mengapa Doomscrolling Sulit Dihentikan?
Doomscrolling terjadi karena otak manusia secara alami lebih tertarik pada informasi negatif. Dalam psikologi, kondisi ini disebut negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih fokus pada ancaman atau kabar buruk dibanding hal positif.
Saat membaca berita negatif, otak akan terus merasa penasaran dan ingin mengetahui perkembangan selanjutnya. Akibatnya, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat berita yang sebenarnya membuat slot depo 10k pikiran semakin stres.
Selain itu, algoritma media sosial juga memperburuk kondisi ini. Platform digital biasanya menampilkan konten yang sering dilihat pengguna. Jika seseorang sering membaca berita negatif, maka sistem akan terus merekomendasikan konten serupa.
Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental
Kebiasaan doomscrolling dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental. Salah satu mahjong efek yang paling umum adalah meningkatnya rasa cemas dan stres berlebihan. Paparan berita buruk secara terus-menerus membuat otak merasa berada dalam situasi berbahaya.
Tidak hanya itu, doomscrolling juga dapat memicu gangguan tidur. Banyak orang membaca berita negatif sebelum tidur sehingga pikiran menjadi aktif dan sulit rileks. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan tubuh tidak mendapatkan istirahat yang cukup.
Dalam jangka panjang, doomscrolling juga dapat meningkatkan risiko depresi. Seseorang yang terus menerus melihat kabar buruk akan merasa dunia dipenuhi ancaman dan kehilangan harapan. Kondisi ini bisa memengaruhi suasana hati, motivasi, hingga produktivitas sehari-hari.
Dampak Fisik yang Tidak Boleh Diremehkan
Selain kesehatan mental, doomscrolling juga berdampak pada kondisi fisik tubuh. Stres berkepanjangan akibat paparan berita negatif dapat meningkatkan hormon kortisol. Jika hormon ini terus tinggi, tubuh menjadi lebih mudah lelah, sakit kepala, hingga mengalami tekanan darah meningkat.
Kebiasaan terlalu lama menatap slot bonus 100 layar juga dapat menyebabkan mata lelah, nyeri leher, dan gangguan postur tubuh. Bahkan, sebagian orang mengalami jantung berdebar ketika membaca berita yang menegangkan.
Kurangnya aktivitas fisik akibat terlalu lama bermain ponsel juga membuat tubuh kurang bergerak. Hal ini dapat meningkatkan risiko obesitas dan masalah kesehatan lainnya.
Cara Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling
Mengurangi doomscrolling memang tidak mudah, tetapi bisa dilakukan secara bertahap. Salah satu cara terbaik adalah membatasi waktu penggunaan media sosial setiap hari. Gunakan fitur screen time agar waktu bermain ponsel lebih terkontrol.
Selain itu, pilih sumber informasi yang terpercaya dan hindari membaca berita secara berlebihan. Tidak semua informasi harus diikuti setiap saat. Cukup luangkan waktu tertentu untuk mengetahui berita terbaru.
Mengganti kebiasaan scrolling dengan aktivitas positif juga sangat membantu. Misalnya dengan olahraga ringan, membaca buku, mendengarkan musik, atau berbicara dengan keluarga dan teman.
Jika merasa stres akibat terlalu banyak berita negatif, cobalah melakukan digital detox selama beberapa jam atau bahkan satu hari penuh. Cara ini membantu pikiran menjadi lebih tenang dan segar.
Kesimpulan
Doomscrolling merupakan kebiasaan yang terlihat sepele tetapi dapat memberikan dampak serius bagi kesehatan mental maupun fisik. Terlalu sering melihat berita negatif bisa memicu stres, kecemasan, gangguan tidur, hingga menurunkan kualitas hidup.